Seminar Amerta :"Memory of Love" yang diadakan tanggal 6 Juni 2024 bertepatan dengan hari lahir Ir. Soekarno atau yang biasa kita kenal dengan Bung Karno. Dalam seminar kali ini, peserta seminar mendapatkan pemaran dari tiga narasumber yang luar biasa, yaitu Dekan Fakultas Seni Rupa & Desain Universitas Tarumanagara dan juga Ketua Yayasan Swara Indonesia Cemerlang Bung Kurnia Setiawan, Pendiri Museum Peranakan Tionghoa Bung Azmi Abubakar, dan Wakil Sekjend Perhimpunan INTI Bung Fernando Yohanes. Acara yang berlangsung sekitar 90 menit ini dimoderatori oleh Relawan SIC, Isra Mirani. Seminar ini mengangkat topik bagaimana kita melihat sudut pandang Mencintai Indonesia secara universal, dan bagaimana generasi muda bisa meresapi keberagaman yang menyatu dalam harmoni. Mencintai Indonesia berarti merangkul perbedaan agar tercipta harmoni di tengah keragaman, yang bisa menjadikan bangsa ini rumah yang aman untuk semua etnis yang ada di Indonesia.
Seperti pandangan visioner dari proklamator kita, Bung Karno. Pemikiran Bung Karno mengenai Pancasila sebagai ideologi perekat yang mempersatukan seluruh kelompok masyarakat Indonesia, termasuk juga masyarakat Tionghoa yang telah lama menjadi bagian integral Indonesia. Selain menyoroti pemikiran Bung Karno, seminar ini juga membahas kontribusi signifikan masyarakat Tionghoa dalam berbagai aspek kehidupan di Indonesia, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun budaya. Pemaparan pertama yang disampaikan oleh narasumber termuda adalah latar belakang kehidupan Bung Karno, mulai dari beliau kecil hingga perjuangannya yang menggerakan tokoh-tokoh muda di Indonesia untuk bergerak bersama memerdekakan bangsa Indonesia. Bung Kurnia kemudian melanjutkan pemaparan yang kedua tentang dasar-dasar filosofi dan pemikiran Bung Karno tentang Pancasila. Beliau juga menyampaikan tentang permainan Ular Tangga Pancasila (UTP). Permainan ini diharapkan dapat membuat generasi muda lebih suka mempelajari Pancasila. UTP sendiri sudah roadshow ke berbagai kota dan berbagai komunitas. Diharapkan tahun-tahun mendatang akan semakin banyak roadshow, sehingga semakin banyak generasi muda terutama siswa-siswi sekolah yang mencoba permainan ini.
Pemaparan terakhir disampaikan Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Bung Azmi, yang membawa salah satu buku legendaris tentang Bung Karno. Pada kesempatan ini, beliau juga memaparkan siapa saja tokoh-tokoh Tionghoa yang ikut berjasa dalam memerdekakan Indonesia. Setelah pemaparan dari ketiga narasumber, moderator memberikan kesempatan kepada para peserta seminar untuk bertanya. Cukup banyak pertanyaan yang dilontarkan. Ada yang menyakan agenda-agenda roadshow UTP selanjutnya, ada juga yang menanyakan lebih detil tentang sejarah dan tokoh-tokoh Tionghoa yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia. Setelah narasumber menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan, mereka menyampaikan bahwa seminar seperti ini penting diadakan untuk mengingatkan peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia, agar generasi muda tidak melupakan sejarah, sehingga bangsa Indonesia tidak perlu mengulang sejarah yang kelam. Narasumber juga mengajak agar peserta seminar yang merupakan mahasiswa untuk selalu bisa membaca dan mengkritisi apa yang terjadi di Indonesia. Terlepas dari apapun, kami yakin kita semua berharap selalu dapat hidup harmonis dalam keberagaman dan perbedaan yang ada di Indonesia. Sobat SIC, mari kita jadikan Pancasila sebagai inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, dan bersatu. Jangan pernah kehilangan semangat untuk terus membantu Indonesia lebih baik!